fbpx

Tagar.id “Gembong Primadjaya: Senior Perlu Bantu Junior IA-ITB”

gembong primadjaya 3 l

Gembong Primadjaya menilai alumni muda tidak boleh dibiarkan sendiri dan peran senior sangatlah perlu untuk membantu junior.

 Calon Ketua Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB) 2021-2025, Gembong Primadjaya menilai alumni muda tidak boleh mencari jalannya sendiri, sehingga peran senior sangatlah perlu untuk membantu junior.

“Saya lulus dari Teknik Mesin waktu itu saya berpikir begini, kayaknya saya nggak usah hidup di dunia mesin lah. Kayaknya susah banget hidup di dunia mesin.” Kata Gembong melalui video yang diterima Tagar, Minggu, 7 Februari 2021.

Pria yang lulus dari Teknik Mesin ITB pada 1986 itu kemudian melanjutkan pendidikan Manajemen dan Keuangan atau S2-nya di Universitas Rutgers, Amerika. Setelah lulus pendidikan S2 dia bekerja di Australia hampir 2 tahun pada bidang konstruksi. Perusahaannya kemudian menang tender di Batu Hijau, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.

“Nah mereka harus merunning bisnis di sana, saya dikirim sebagai expatriat. Kemudian perusahaan itu harus membentuk badan usaha PMA waktu itu karena harus ada local partner saya menjadi local partner. Di situlah saya mulai berbisnis.” Ucapnya.

Pada tahun 1999, Gembong pun menceritakan kisah hidupnya yang pahit. Saat itu pada masa krisis moneter usahanya bangkrut habis-habisan, dia hanya mempunyai sekitar Rp 30 juta untuk membayar hutang bank dan lain sebagainya.

Sampai akhirnya dia memutuskan untuk merantau ke Kalimantan, pulau yang tidak pernah dia kunjungi sama sekali sebelumnya. Internet belum populer layaknya hari ini, dia berangkat dari Bandung ke Surabaya dengan menggunakan kereta api dan sesampainya di Surabaya dia meneruskan perjalanannya ke Kalimantan menggunakan kapal laut.

“Begitu saya sampai di Kalimantan, di Pelabuhan itu saya sempat bingung mau ke mana. Karena saya tidak punya network, saya tidak punya senior yang membimbing, orang tua saya nggak bisa ngasih modal untuk usaha baru jadi saya putuskan saya memulai usaha di bidang angkutan batu bara.” Jelasnya.

Gembong pun mengatakan dirinya sempat dipanggil orang gila di Kalimantan. “Karena kalau ditanya sama orang di warung, ‘bapak dari mana?’ ‘Dari Bandung’ ‘Oh, background-nya apa?’ ‘Saya lulusan ITB, S2-nya di Amerika’. Nggak ada yang percaya orang di sana. Jadi kalau saya masuk warung itu, pasti orang-orang itu bilang ‘Ada orang gila datang’.” Ucapnya.

Karena saya pikir alumni muda atau alumni baru yang sedang mencari identitas diri dan mencoba membangun karir itu perlu dibantu. Jadi dari pengalaman itulah saya merasa alumni muda itu tidak boleh dibiarkan sendiri, mencari jalannya sendiri, kalau bisa difasilitasi. Jadi yang senior membantu yang junior.

Dari pengalamannya yang tidak memiliki network dan senior yang membimbing itulah yang kemudian membuat Gembong memutuskan untuk mengurus organisasi termasuk IA ITB.

“Karena saya pikir alumni muda atau alumni baru yang sedang mencari identitas diri dan mencoba membangun karir itu perlu dibantu. Jadi dari pengalaman itulah saya merasa alumni muda itu tidak boleh dibiarkan sendiri, mencari jalannya sendiri, kalau bisa difasilitasi. Jadi yang senior membantu yang junior.” Kata Gembong.

Menurutnya penting sekali membangun sebuah jejaring karena tidak ada orang yang dapat berhasil dalam hidupnya sebagai seorang penyendiri atau soliter.

“Jadi kita harus percaya bahwa network itulah yang akan menentukan bagaimana karier kita ke depan.” Ujarnya.

Dirinya pun tidak pernah menghakimi seseorang yang akhirnya bekerja di luar dari jurusan yang dipelajarinya serta perusahaan apapun, entah bekerja di perusahaan minyak, perusahaan teknologi atau bekerja sebagai tenaga marketing sekalipun. Koneksi atau pertemanan dengan siapapun menurutnya penting.

“Harus ada teman yang bekerja sebagai pegawai negeri, kerja di Pertamina, kerja di BUMN, kemudian ada juga teman yang masuk di Pemerintahan.” Ujarnya.

Karena Gembong mengatakan suatu saat pada waktu yang sudah cukup matang jika kembali bersatu lagi bersama teman-teman maka kekuatannya akan luar biasa.

“Itu yang harus dijaga, menjaga hubungan baik dengan teman seangkatan, teman satu jurusan. Kemudian teman satu ITB. Nah itu akan membangun suatu kekuatan bersama, karena kalau kita bangun sendiri-sendiri rasanya sulit.” ucap Gembong Primadjaya.

Artikel asli: https://www.tagar.id/gembong-primadjaya-senior-perlu-bantu-junior-iaitb